Pusdokkes Polri Tingkatkan Kemampuan Personel Polda Riau Tangani Barang Bukti DNA
KANALSUMATERA.com - PEKANBARU – Pengungkapan tindak pidana membutuhkan dukungan berbagai alat bukti, tidak hanya berdasarkan keterangan saksi dan hasil penyelidikan. Salah satu metode yang dapat mendukung proses tersebut adalah pemeriksaan DNA.
Bukti ilmiah yang akurat juga menjadi bagian penting dalam membantu proses identifikasi dan pengungkapan suatu perkara. Metode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang maupun mengetahui keterkaitan antara barang bukti dengan suatu perkara.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan personel dalam mendukung proses penyelidikan dan penyidikan, Bidang Laboratorium DNA (Bidlab DNA) Rolabdokkes Pusdokkes Polri melaksanakan sosialisasi sekaligus pengambilan sampel DNA bagi petugas olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penyidik di lingkungan Polda Riau, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang digelar di Polda Riau tersebut diikuti sekitar 50 peserta. Mereka berasal dari personel Inafis, Biddokkes Polda Riau, Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru, serta penyidik dari jajaran Polda Riau.
Materi sosialisasi diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan personel, terutama dalam tahapan pengambilan, penanganan, serta pengamanan barang bukti biologis sebelum dilakukan pemeriksaan di Laboratorium DNA.
Baca: Aisar Khaled Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Dugaan Penipuan Rp5,7 Miliar Diselidiki
Selain memperoleh pembekalan secara teori, peserta juga mendapatkan pemahaman praktis mengenai prosedur pengambilan sampel yang benar. Hal ini penting untuk memastikan barang bukti tetap terjaga dan mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari Pusdokkes Polri, yakni AKBP Ifan Wahyudi, S.Si., M. Biotech dan Penda Tk.I Rifani Fauziah, S.Farm.
Kabiddokkes Polda Riau AKBP dr. Parluhutan Sitindaon menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai pemahaman tentang teknik pengambilan dan penanganan sampel DNA sangat diperlukan oleh personel yang bertugas di lapangan.
“Kegiatan ini menjadi bekal penting bagi petugas olah TKP dan penyidik agar pengambilan serta penanganan barang bukti biologis dilakukan secara tepat dan meminimalkan risiko kontaminasi,” ujarnya.
Menurutnya, ketelitian dalam menangani barang bukti sejak pertama kali ditemukan di lokasi kejadian turut menentukan kualitas sampel saat nantinya menjalani pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.
Baca: Polda Riau Tetapkan 55 Tersangka Karhutla, Luas Lahan Terbakar Capai 3.378 Hektare
Hal serupa disampaikan Kasubbiddokpol Biddokkes Polda Riau AKBP Supriyanto, SKM., MH. Ia menyebut materi yang diberikan dalam sosialisasi tersebut bersifat aplikatif karena peserta mendapatkan pembelajaran berupa teori sekaligus praktik.
“Dengan pemahaman yang baik, kualitas barang bukti biologis yang dikirim ke Laboratorium DNA dapat lebih terjaga sehingga mendukung hasil pemeriksaan secara optimal,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mengikuti simulasi pengambilan sampel dari sejumlah jenis barang bukti biologis. Praktik ini dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung kepada personel mengenai prosedur yang tepat dalam menangani sampel.
Setelah rangkaian materi dan praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan post-test serta evaluasi. Tahapan tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan.
Sosialisasi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan Scientific Crime Investigation (SCI) di lingkungan Polda Riau.
Baca: Dua TNI Kasus Air Keras Andrie Yunus Lolos dari Pemecatan, Vonis Dipangkas
Pendekatan SCI menempatkan metode ilmiah sebagai salah satu instrumen pendukung dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Dengan demikian, penanganan perkara dapat didukung oleh bukti yang diperoleh dan dianalisis secara ilmiah, sesuai dengan amanat UU Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP.
Peningkatan kemampuan personel dalam mengamankan serta menangani barang bukti biologis diharapkan dapat mendukung pemeriksaan DNA secara lebih optimal. Hal tersebut pada akhirnya dapat membantu proses identifikasi dan pengungkapan perkara tindak pidana, khususnya yang terjadi di wilayah hukum Polda Riau.
Bagi petugas di lapangan, ketelitian sejak tahap awal menjadi hal yang sangat penting. Sebab, sampel biologis yang ditangani secara tepat dapat menghasilkan informasi ilmiah yang membantu penyidik menyusun rangkaian fakta dalam suatu perkara.
